HIDUP UNTUK YANG MAHA HIDUP

0
1414

Dalam buku best selling karya Stephen Covey, “Seven Habits of Highly Effective People” menyebut bahwa manusia harus memiliki peta jalan (roadmap) bila ia ingin secara efektif menjelajahi hidup. Kemampuan memahami bahwa manusia membutuhkan peta jalan tersebut, Covey sebut sebagai sebuah paradigma. Manusia harus memiliki paradigma bahwa hidup adalah bermakna. Dengan peta tersebut ia akan mencapai tujuan hidup yang ia dambakan.

Bila Covey saja yang bukan muslim mengetahui sangat bahwa manusia membutuhkan peta jalan dan sekaligus petunjuk (guidance) dalam menapaki setiap inchinya, lalu bagaimana dengan yang muslim? Sudahkah kita menemukan peta jalan hidup tersebut? Atau jangan-jangan sampai dipenghujung usia, kita masih sibuk mencari eksistensi diri dan mencari kebahagiaan yang hakiki.

Islam adalah ajaran yang sangat unik. Bukan saja melanjutkan agama tauhid yang dibawa sejak nabi Adam a.s hingga Isa a.s, juga sekaligus menyempurnakannya. Allah Swt berfirman:

“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” (Al-Maa-idah: 3)
Ayat “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu” dikomentari oleh Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, “Maksudnya adalah Islam. Allah telah mengabarkan kepada Nabi Muhammad Saw dan orang-orang yang beriman bahwa Allah Swt telah menyempurnakan keimanan kepada mereka, sehingga mereka tidak membutuhkan penambahan sama sekali. Dan Allah Swt telah menyempurnakan Islam sehingga Allah tidak akan pernah menguranginya, bahkan Allah telah meridhainya, sehingga Allah tidak akan memurkainya, selamanya.”
Maka, sejatinya peta jalan hidup bagi muslim adalah Al-Quran dan Al-Hadist. Ia harus menjadi standar kebenaran yang hakiki. Semua permasalahan yang dihadapi oleh muslim harus merujuk kepada Al-Quran dan Al-Hadist. Setiap penyelesaian atas masalah-masalah tersebut akan membawa kepada kebahagian yang sejati.

Bergelimang harta dan jabatan, tetap tidak menjamin ketenangan hidup. Disaat tetangga, rekan kerja atau saudara kita menduduki jabatan yang lebih tinggi, gaji yang sedikit lebih besar, lalu kita terpicu untuk marah, kesal dan stres. Padahal, diri kita ini juga memiliki penghasilan, kedudukan dan pekerjaan tetap, yang lebih baik dari masyarakat kebanyakan. Namun mengapa keseluruhan itu tetap membawa kepada emosi dan kecemburuan. Maka jawabnya adalah karena kita begitu mendewakan dunia. Hidup kita sudah sejak lama dipersembahkan untuk pekerjaan, status, kekayaan, harta dan kedudukan. Ungkapan yang sering didengar, hidup untuk kerja” atau “kerja untuk hidup”, atau bahkan ungkapan “kerja, kerja, kerja” tanpa didasari semangat Illahiyyah kerja untuk apa dan kerja untuk siapa?

Sebagaimana pula kebanyakan masyarakat menyekolahkan anak-anaknya hanya untuk tujuan panjang yang sesungguhnya pendek, terbatas. Sekolah, kuliah untuk mendapat kerja, penghasilan tetap, lalu menikah, memiliki keturunan, wafat. Selesai. Betapa pendeknya. Sementara hasil bekerja kita hanya dinikmati oleh para ahli waris saja. Tidak dibawa ke kehidupan setelah kematian.

Maka marilah ubah pola pikir kita. Hiduplah untuk Yang Maha Hidup. Orientasikan seluruh aktivitas hidup untuk Yang Maha Hidup. Ibadah. Senantiasa terikat dengan apa Yang Maha hidup kehendaki. Menjauhi seluruh larangan-laranganNya. Menghentikan praktik riba, korupsi, kezhaliman, berburuk sangka, memakan yang bukan haknya dan seluruh larangan yang Allah Swt serta RasulNya jelaskan kepada umat manusia. Begitupula, hidup untuk Yang Maha Hidup bermakna segera berlari, mendekat kepada tuntunan Allah Swt dan RasulNya. Tidak alergi terhadap seluruh syariat yang telah diwajibkan untuk dilaksanakan oleh manusia karena itu pasti yang terbaik bagi manusia, meski manusia tertatih-tatih dalam memahami pesan di balik itu.

Hidup untuk Yang Maha Hidup terang sekali akan membuat hidup kita tenang karena tidak ada yang kita kejar selain cintaNya dan keridlhaanNya. Wallahu’alam bishshawwab

Comments

comments

SHARE
Previous articleSetan ikat manusia saat tidur
Next articlePETA HIDUP SUKSES
mm
Penulis adalah penggiat literasi, sekaligus pendidik. Doktor bidang Ilmu Pendidikan ini memiliki visi memberdayakan pendidikan dengan pola pikir Islam. Bermoto Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus. Hidup untuk Yang Maha Hidup.